Rakor Assesor LKPP

17 Jan

Di lantai 10 LKPP dilaksanakan rapat koordinasi Assesor Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah untuk tahun 2018. Dibuka oleh pa Deputi PPSDM LKPP bapak Dharma Nursani (pa Cani). Dihadiri oleh para assesor kompetensi lkpp se Indonesia.

Advertisements

Kolam renang hotel Tunjungan

17 Jan

Hotel Tunjungan berada di komplek Tunjungan Plaza Mall Surabaya. Bisa dilihat hotel ini termasuk hotel lama yang memerlukan pemyegaran.

Untungmya tersedia kolam renang di lantai 7 yang dapat digunakan untuk berolahraga.

LKPP diserbu TNI

17 Jan

Wah ada apa ini pagi pagi jam 7 di depan kantor berhenti sekitar 5 bis bahkan lebih bis bis berwarna hijau tua.

Kemudian turunlah para bapak bapak dan ibu ibu dengan seragam hijau tua juga dari berbagai angkatan.

Sekitar 200an lebih amggota TNI mengikuti pelatihan Sirup agar bisa meng input semua paket pengadaannya ke dalam aplikasi.

Photo pap PNS kota Bogor

9 Jan

Photo pap prajab jadi pns kota Bogor.

Rahasia sukses orang sukses

6 Jan

Priyosaksono & Sembel.
“Component of Success” & “Our Education System”l

*”LESSON FROM THE TOP”*

Ada pelajaran menarik yg dpt diambil dr sebuah buku berjudul *”Lesson From The Top”* _karangan *Neff dan Citrin*_ (1999).

Pada tahap pertama, penulis buku meminta kpd sekitar 500 org (CEO dr berbagai Perusahaan, LSM, dan Dekan/Rektor Perguruan Tinggi) agar mrk menominasikan 50 nama orang2 yg menurut mrk tersukses di Amerika. Dari mrk, akhirnya diperoleh 50 nama yg bbrp diantaranya adalah :
*• Jack Welch* _(General Electric)_
*• Bill Gates* _(Microsoft)_
*• Andy Grove* _(Intel)_
*• Lou Gerstner* _(IBM)_
*• Michael Dell* _(Dell Computer)_
*• Mike Armstrong* _(AT&T)_
*• John Chambers* _(Cisco System)_
*• Frederick Smith* _(Federal Express)_
*• Steve Case* _(America Online)_
*• Elizabeth Cole* _(American Red Cross)_
*• Bob Eaton* _(Daimler Chrysler)_
*• Michael Eisner* _(Walt Disney)_
*• Ray Gilmartin* _(Merck)_
*• Hank Greenberg* _(AIG)_
*• Sandy Weill* _(CitiGroup)_
*• Alex Trotman* _(Ford Motor Company)_
*• Bill Steere* _(Pfizer)_
*• Howard Schultz* _(Starbucks)_
*• Ralph Larsen* _(Johnson&Johnson)_
*• Walter Shipley* _(Chase Manhattan)_

Tahap berikutnya, penulis buku mewawancarai 50 org terpilih tsb satu-per-satu. Dalam wawancara tsb antara lain ditanyakan rahasia sukses para pengusaha tsb.

Jawaban mrk kemudian di rangkum di dlm bab kesimpulan yg memuat 10 kiat yg menurut 50 org tsb paling menentukan kesuksesan mrk.

Tahukah Anda?
Dari 10 kiat sukses tsb *tak satupun menyebut pentingnya memiliki keterampilan teknis alias hard skills sbg persyaratan utk sukses di dunia kerja.* 50 org tsb seolah sepakat bhw yg paling menentukan kesuksesan mrk *bukanlah Keterampilan Teknis, melainkan Kualitas Diri yg termasuk dlm katagori Keterampilan Lunak (Soft Skills) atau keterampilan berhubungan dgn org lain (People Skills)*. Di Jerman dikenal juga dgn istilah *Strategical Skills* atau *Key Qualifications.*

Berikut ini adalah 10 Kiat Sukses 50 org tersukses di Amerika tsb.

_*10 Common Traits of the Best Business Leaders*_
*01. Passion*
*02. Intelligence and Clarity of Thinking*
*03. Great Communication Skills*
*04. High Energy Level*
*05. Egos in Check*
*06. Inner Peace*
*07. Capitalizing Early Life Experience*
*08. Strong Family Lives*
*09. Positive Attitude*
*10. Focus on “Doing The Right Things Right”*

Mari kita perhatikan, kiat sukses nomor satu ternyata adalah *“passion”, gairah, atau semangat yg membara.*

Orang bijak menterjemahkan semangat sbg burning desire yg diwujudkan dlm bentuk : _*“bersedia mencurahkan apapun yg dipunyai utk apapun yg sdg dikerjakan.”*_

Karena definisinya demikian, tak heran jika 50 org sukses tadi menempatkan “semangat” sbg modal pertama utk meraih kesuksesan.

Yang menjadi pertanyaan, “semangat” itu “andaikan bisa diajarkan” akan diajarkan melalui mata pelajaran apa dan diajarkan oleh siapa dgn cara bagaimana?

_*”Kata orang bijak, semangat itu tidak bisa diajarkan, tetapi bisa ditularkan.”*_

Ceritera diatas tadi bukan berarti tdk mementingkan hard skills dlm dunia usaha dan dunia kerja atau dunia bisnis sekalipun. Namun bbrp buku selalu menekankan bhw :
_di dalam dunia nyata tsb soft skills sangat menonjol peranannya dlm membawa org mampu bertahan di puncak,_ sukses.

Dengan kata lain :
_”We HIRE people for their technical skills,_ but then … _We FIRE them for behavioral faults”_

Selain 10 kiat sukses tsb, para pengusaha didlm buku Lesson From the Top juga menambahkan :

*6 Prinsip Utama* (Six Core Principles) bagi suksesnya org2 sukses, yaitu :
*1. Live With Integrity,*
*2. Develop a Winning Strategy,*
*3. Build a Great Management Team,*
*4. Inspire Employees,*
*5. Create a Flexible Organization,* and
*6. Implement Relevant Systems.*

*10 Kiat Sukses* dan *6 Prinsip Utama* tsb di atas semakin menegaskan pentingnya soft skills bagi para lulusan perguruan tinggi sbg Calon Pekerja dan Pengusaha serta Pemimpin Masyarakat.

Sadar atau tidak, diri kita seringkali menilai org lain (terutama yg kita kagumi) dr sikap dan perilakunya.

Artinya apa?
Kita pun akan dinilai org krn sikap dan perilaku kita. Jadi betapa pentingnya bagi kita utk selalu memelihara sikap dan perilaku yg menyenangkan dan diterima baik oleh masyarakat.

Apabila dicermati dr kenyataan yg ada, baik dr perbincangan informal maupun hasil penelusuran atau kajian formal, maka rasio kebutuhan soft skills dan hard skills di dunia kerja/usaha berbanding terbalik dgn pengemban yg membawa atau mempertahankan org di dlm sebuah kesuksesan di lapangan kerja yaitu 80% ditentukan oleh mind set yg dimilikinya dan 20% ditentukan oleh technical skills.

Namun, di perguruan tinggi atau sistem pendidikan kita saat ini, soft skills hanya diberikan rata2 10% saja dlm kurikulumnya.

Jadi, bgm baiknya agar proses pendidikan kita dpt mensinergikan antara soft skills dan hard skills dgn baik?, sementara jumlah satuan kredit mahasiswa sdh cukup banyak.

Sumber:
https://illahsailah.wordpress.com/2013/03/08/lesson-from-the-top

_”Wishing you a fabulous 2017 with full of great achievements and experiences. A meaningful chapter waiting to be written”_ *’

8 hal dari belajar 33 tahun

5 Jan

Belajar 33 TAHUN “HANYA” DAPAT 8 HAL

⊙Suatu hari, Imam Syaqiq Al Balkhi bertanya kepada muridnya yang bernama
Hatim Al Ashom :

■Imam syaqiq : “Sudah berapa lama engkau menuntut ilmu dariku?”.

●”Sudah 33 tahun”, jawab Hatim.

■”Apa yang telah kau pelajari, selama 33 th ini?”, tanya Imam Syaqiq.

●”Hanya 8 hal “, jawab Hatim.

■”Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun!
Kuhabiskan umurku untuk mendidikmu,
namun kau hanya mempelajari 8 hal dariku?”, Ucap Imam Syaqiq heran.

●”Benar Yaa Syeikh, aku hanya mempelajari 8 hal saja, aku tidak mau mendustai anda”, jawab Hatim.

■”Coba sebutkan 8 hal yang telah kau pelajari itu!” pinta Imam Syaqiq.

●Hatim Al Ashom pun berkata :

♥Pertama :
“Kulihat setiap manusia memiliki seorang kekasih. Ketika dia mati, kekasihnya ikut mengantarkannya hingga ke kuburan, lalu meninggalkannya sendirian di sana.

○Maka, aku lebih memilih amal kebajikan sebagai kekasihku. Sehingga ketika nanti Aku masuk liang kubur, amalku akan ikut bersamaku”.

♥Kedua :
“Aku merenungkan wahyu ALLAH SWT :
“Dan adapun orang2 yang takut kepada Kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surga lah yang akan menjadi tempat tinggalnya”.
(QS. An Naazi’aat,79:40-41).

○Aku sadar, bahwa Firman Alloh pasti lah benar. Maka Aku pun berjuang untuk melawan keinginan nafsuku, hingga nafsuku tunduk kepada ALLAH SWT “.

♥Ketiga :
“Ku perhatikan manusia selalu memulyakan dan menyimpan harta benda berharga yang mereka miliki, lalu Kupelajari Firman ALLAH swt :
“Apa yang ada disisimu akan lenyap, dan apa yang ada disisi ALLAH akan kekal”.
(QS. An Nahl,16:96).

○Maka setiap kali Aku memperoleh sesuatu yg berharga,
Aku pun menyedekahkannya dijalan ALLAH swt, agar hartaku selalu tetap terjaga di sisi-Nya”.

♥Keempat :
“Aku melihat setiap manusia mengejar harta, kedudukan, kehormatan dan kemulyaan nasab. Namun setelah aku mempelajarinya, ternyata semua itu tidak ada apa2nya, saat Aku membaca Wahyu ALLAH swt :

“Sesungguhnya, orang yg paling mulia disisi ALLAH, adalah orang yg paling bertaqwa (kepada ALLAH) di antara kalian”.
(QS. Al Hujuroot,49:13).

○Karena itulah, aku pun beramal untuk mewujudkan taqwa, agar Aku memperoleh kedudukan yang Mulia di sisi ALLAH SWT.

♥Kelima :
“Aku melihat manusia saling mencela dan melaknat, dan sumber semua itu adalah hasad (kedengkian). Lalu aku mempelajari Wahyu ALLAH SWT :
“Kami telah membagikan untuk penghidupan mereka di alam dunia”.
(QS. Az Zukhruf,43:32).

○Akupun sadar, bahwa semuanya telah dibagi oleh ALLAH swt.
Maka aku tinggalkan sifat Hasad (dengki), kujauhi manusia, dan aku tidak bermusuhan dengan seorang pun”.

♥Keenam :
“Kulihat manusia saling menganiaya dan saling membunuh, padahal ALLAH SWT berfirman :
“Sesungguhnya syeitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh(mu)”.
(QS. Al Fathir,35:6).

○Oleh sebab itu,
Kutinggalkan permusuhan dengan manusia dan Kujadikan Syeitan sebagai satu2nya musuhku.
Aku selalu mewaspadainya dengan sekuat tenaga, sebab ALLAH swt sendiri yg telah menjadikan Syeitan sebagai musuhku”.

♥Ketujuh :
“Aku melihat setiap orang hanya demi sepotong roti (harta), mereka rela menghinakan diri mereka sendiri dengan melakukan hal2 yg diharamkan oleh ALLAH swt. Lalu kuperhatikan Firman ALLAH SWT :

“Dan tiada satupun binatang melata dibumi, melainkan ALLAH telah menanggung rezeki nya”.
(QS. Hud,11:6).

○Aku sadar,
Bahwa diriku adalah salah satu dari yang melata itu, dan ALLAH swt telah menjamin Rezeki ku. Oleh karena itu, kusibukkan diriku untuk menunaikan kewajiban yang telah di berikan oleh ALLAH swt dan aku tidak pernah merisaukan sesuatu yang telah dijamin oleh ALLAH swt untukku”.

♥Kedelapan :
“Aku melihat banyak orang bergantung kepada Makhluq ALLAH swt. Ada yg bergantung kepada ladangnya, bergantung kepada perniagaannya, bergantung kepada pekerjaannya, dan bergantung kepada kesehatan jasmaninya.Akupun kembali kepada Firman ALLAH :

“Dan barang siapa yg bertawakkal kepada ALLAH, maka ALLAH akan mencukupkan (segala keperluan) nya”.
(QS. Ath Tholaaq,65:3).

○Oleh karena itulah,
Aku pun bertawakkal (bergantung) kepada ALLAH swt yang Maha Perkasa dan Maha Agung, dan ALLAH swt pun mencukupi semua kebutuhanku”.

■Mendengar jawaban dari Hatim Al Ashom,
Imam Syaqiq Al Balkhi berkata :
“Wahai Hatim, semoga ALLAH memberimu Taufiq. Aku telah mempelajari Zabur, Taurot, Injil dan Al Qur’an. Dan kutemukan bahwa semua jenis kebaikan dan ajaran Agama, berkisar pada 8 hal yang tadi telah kau sampaikan. Barang siapa mengamalkan 8 hal tersebut. Maka berarti, dia telah mengamalkan isi dari 4 kitab suci”.

LALU……..
♡Berapa lama kita menuntut ilmu?
♡Apa yang kita dapatkan?
♡Adakah pelajaran penting yang meresap kedalam hati kita dan selalu kita amalkan?
♡Atau semua itu hanya sekedar penghibur telinga kita?

Semoga ALLAH SWT, memberi kita Taufiq dan Hidayah, Sehingga kita dapat mengamalkan apa yang kita deng
ar, kita lihat dan kita baca…….

Aamiin

Abah Ihsan

5 Jan

Setelah 6 Tahun Belajar. Masih ingat ya materinya?Bagaimanan kelean?

Oleh: Ayu

Tulisan ini ADALAH CERITA mengenai isi TRAINING parenting Progam Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) oleh Abah Ihsan.

Saya sering merekomendasikan acara ini ke teman dan saudara, dan alhamdulillah, mereka yang tertarik dan ikut, benar-benar merasakan bahwa harga mahal yang dibayarkan sangat sangat tidak percuma.

Malah salah satu dari teman saya yang kemudian ikut seminarnya seorang praktisi parenting yang (menurut saya) paling terkenal di Indonesia, pendapatnya “mbak, malah pas ikut seminarnya Bu xxxxx kok ngga masuk di aku ya? Ketinggian bahasanya, kalo yg seminarnya Abah aku bisa masuk banget banget”

Hehehhe ini mah mungkin masalah persepsi doank ya, bukan bermaksud saya mebandingkan keduanya.

Ceritanya sih tempo hari berminat banget ikut seminar abah di Bekasi yang hanya setengah hari, nah pas minta ijin ke suami dijawab “Yank Yank…meh melu seminar ping satus nek tanganmu ra iso ucul seko HP ki yo percuma. Nggak usah seminar-seminaran”

huakakakakak….antara sedih dan mengiyakan. hiks hiks..

PROGRAM SEKOLAH PENGASUHAN ANAK (PSPA) Tulisan di pertengahan Tahun 2011

Sebulan yang lalu baca iklan tentang seminar parenting yang akan diadakan di Bekasi. Pas baca-baca webnya lagi kayaknya bagus nih, dan harus ikut. Dan pas tau jadwalnya, ternyata 2 hari tanggal 25-26 Juni full day (ngga pake nginep) dari pagi sampe sore dengan biaya 450ribu (maheelll ya bok buat ku), tapi nggapapa deh, insyaallah bener-bener bermanfaat dan bisa membuka mata hatiku supaya bisa jadi orang tua yang baik buat anak-anak. Hitung-hitung, hmmm tabrakan sama schedule yang lain, dan musti pinter-pinter nyiasatinnya:

1. tabrakan sama acara outbound gathering kantor…hiks hiks..sebenernya pengen ikut tapi tetep aja prioritas ke acara seminarnya. Dan lagi pula acara tersebut ngga wajib-wajib amat kok, kalo ngga ikut juga ngga kena SP/denda/sanksi dll heheheh..dan, SIAP BOS, meski aku ngga ikut acara tsb insyaallah selama di kantor aku tetep berusaha kerjakan tugasku dengan baik.

2. family gathering kantor suami…huhuhuhuhu….padahal lumayan tuh bia ngajak anak2 refreshing gratis nonton lumba-lumba di gelanggang samudra trus berenang di atlantis

3. ada acara offroad di Jakarta dan diajak suami nonton. Halllaaahhhh ngga penting ahhhh…

Alhamdulillah aku masih merasa bahwa 3 acara tsb bisa ditinggalkan demi yang namanya Seminar Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) selama 2 hari full dari pagi sampe magrib. Aku , adalah salah satu orang tua di dunia ini yang merasa masih harus meraba-raba sendiri bagaimana cara mendidik anak- anakku supaya mereka tumbuh menjadi anak yang mandiri kelak. Mandiri dalam pekerjaan, mandiri dalam mengambil keputusan. Aku hanya ingin anak-anakku memanfaatkan kelebihan yang mereka miliki untuk kebaikan dalam dunia akhhiratnya kelak, dan aku ingin anak-anakku bisa menutupi segala kekurangannya agar kekurangan tsb tidak mencelakakan diri mereka kelak.

Dan tiba lah hari yang dinanti, aku pamit ke anak-anak “assalamualaikum sayang, mimmy sekolah dulu ya nak, I love u”. alhamdulillah aku bisa mengikuti training ini selama 2 hari full, ngga pake datang telat dan dapet tempat duduk depan.

Acaranya baguuuuussss banget. Tidak sekedar mengdengarkan paparan lalu tanya jawab. Tidak sekedar melihat slide lalu kita mencatat, tp lebih dari sekedar itu.

Si Abah (pembicara: Bp Ihsan Baihaqi, yang akrab dipanggil abah) menyajikannya memang dalam bentuk “sekolah”, ada simulasi beberapa kali kita diposisikan sebagai anak, dan bukan sebagai orang tua yang mendapat nasihat dan ceramah dari seorang pakar parenting.

Di beberapa sesi khusus , hampir semua peserta menitikkan airmata, menyadari bahwa apa yang selama ini kami lakukan untuk anak kami benar-benar salah total yang selalu menjadikan anak kita sebagai objek dan bukan subjek pengasuhan. Subhanallah, aku benar-benar bersyukur ada di acara tersebut.

Menurut Abah, pola pengasuhan orangtua pada umumnya jika tanpa ilmu, maka hanya bersumber pada 2 hal
– warisan : kita akan mengikuti cara orang tua kita mendidik kita. Apa yang kita ikuti ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah.
– Meraba-raba: saat kita menyadari apa yg diwariskan dari orang tua kita tidak benar, maka kita akan mencoba meraba-meraba alias anak dijadikan objek percobaan.

Lain halnya jika kita mengisi diri kita dengan ilmu. Contohnya adalah sering-sering lah kita membaca referensi artikel dari berbagai media, artikel-artikel yang ditulis oleh pakarnya dan disertai penelitian isinya akan lebih baik daripada artikel2 yang ditulis oleh bukan pakarnya (*jaman sekarang banyak ibu-ibu muda yang menulis konsep pengasuhan anaknya di blog*) , selain dari membaca, mengikuti berbagai seminar parenting adalah salah satu cara kita sebagai orang tua menimba ilmu tentang pengasuhan anak.

Jika kita sebagai orang tua yang tergolong mampu, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog mau pun dokter tumbuh kembang secara berkala (tiap 6 bulan/1thn sekali),jangan salah, berkonsultasi dengan pakar tidak harus menunggu anak kita bermasalah.

Menurut Abah, anak-anak yang dianggap bermasalah, semua itu adalah salah dari orangtuanya sendiri dalam menerapkan pendidikan dalam keluarga. Tanpa sadar, kita sering sekali mematikan kreatifitas anak. Yang lebih buruk lagi, anak akan meniru segala sesuatu dari orangtuanya.

Contoh

Kasus 1
Seorang ibu memasak di dapur lalu anaknya yang masih batita mendekat dan memainkan pisau. Lalu si ibu (gue banget) “aduh, jangan ikut-ikutan main pisau ya nanti kena tangan, ke sana aja dulu”sambil mengambil pisau dan manyun manyun.
====maksudnya sih baik, supaya ngga kena pisau, supaya masak bisa konsen, cepet selesai.

Jika hal serupa diulang secara terus menerus, maka yang ada di benak si anak adalah : aku ngga boleh ikut-ikutan, aku ngga boleh bantuin ibu, ibu lebih suka masak daripada main sama aku, aku ngga boleh belajar memasak.

Kasus 2
2 anak balita kakak beradik bertengkar, adek menangis karena dipukul oleh kakak dan ayahnya bertanya “kamu kenapa pukul adek?” “mainanku direbut” “ooo ngalah donk, adik kan masih kecil, kamu main yg lain aja”
===maksudnya sih baik: kakak harus menjaga adeknya, menghibur si kaka dengan mainan yang lain

Jika selalu diulang utk hal yang sama , Maka yang ada di benak si anak adalah: “kapan ya adek besar, kalo adek besar boleh aku pukul, aku ngga suka jadi anak pertama, ayah pilih kasih, dll”

Kasus 3
Anak 4thn diajak ke supermarket, sebelum berangkat, mamanya mengatakan “nanti kita ke supermarket, adek boleh beli apa aja yang adek mau tapi ngga boleh ambil coklat” dan si anak dengan senang hati mengiyakan. Sampai di supermarket dan melewati rak belanja, si anak tiba-tiba ‘berubah pikiran’
“mama aku mau coklat”
“ngga boleh”
“coklat ya ma”
“mama bilang ngga boleh, tadi adek sudah janji”
“maaaaa…coklaatttt” lalu nangis dan menggertak keranjang belanjaan
Karena mendengar anak nangis lalu mama marah
“dikasitau ngga boleh ya ngga boleh, malu tau kamu nangis di sini, mama laporin satpam kalo kamu ngga nurut mama biar dibawa ke kantor polisi”
“mamaaaaa…COKLAAAATTTT” nangis tambah kenceng
Karena malu, akhirnya si mama sengaja ‘ngalah’ membelikan coklat.

====maksudnya baik kali ya,ngasi tau kalo anak nakal pas dewasa nanti , maka akan berurusan dgn polisi.

Jika hal tersebut diulang, maka anak akan berfikir :nangis adalah senjata, mama pembohong (ngga boleh kok jadi boleh), kalo nanti ada orang marah sama aku aku juga akan ngomong sambil emosi juga, anak membenci satpam/polisi pdhl belum tentu polisi itu jahat dsb.

Kasus 4
Saat di supermarket, soranga nak 5thn diajak ibunya ikut memilih apel.
“ayo kak, bantu mama pilih apel”
Kebetulan apel yg dipili si kakak adalah apel yang busuk
Secara langsung ibu langsung mengoreksi,
“aduh kok itu, itu kan busuk kak, nih lihat apel mama, bagus kan?”
===maksudnya baik, mengajak anak membedakan mana apel busuk dan tidak busuk.

Jika hal tersebut diulang ulang utk hal lain dalam hidupnya, maka anak kita akan berfikir bahwa: pilihan aku ngga sebagus pilihan mama, aku ngga boleh ikut memilih, aku bodoh, aku ngga berguna dll.

Ke empat kasus di atas adalah sebagian contoh bahwa kita telah mematikan potensi anak, TANPA KITA SENGAJA sodara sodara sekalian. Mengapa hal itu terjadi? Jawabannya adalaaaahhhh : KITA ADALAH ORANG TUA YANG NGGA MAU REPOT, YANG PENTING ANAK ANTENG, NGGA REWEL, NGGA RIBUT, NGGA BERTENGKAR, BAJU NGGAK KOTOR, NGGA NAIK-NAIK MEJA, NGGA BAU OMPOL, DE EL EL ENDESBRE ENDESBRE .

*** ***
Orang tua selain berbicara yang lembut penuh kasih sayang, juga harus mengerti bahwa setiap perkatannya tersebut berdampak bagaimana untuk anaknya. Jangan sampai maksud kita baik tetapi diterjemahkan salah oleh anak kita. Hal ini bisa berakibat fatal untuk pertumbuhannya saat mereka dewasa kelak.

Contoh kasus di atas adalah orang tua yang memangkas kreatifitas anak dan melakukan solusi bagi diri orang tua itu sendiri. “yang penting sekarang beres, anak ngga rewel, ngga ngerecokin, yg penting apel yg masuk ke plastik apel yg ngga busuk”

Lalu bagaimana solusinya jika kita mengalami kasus di atas?mari sodara-sodara, ini adalah saran dari Abah:

1. kasus dapur
Saat kita sedang sibuk dan darurat, kita boleh merasa terganggu, tetapi sebaiknya kosakata yang dipilih adalah kosakata yang tepat, tidak membuat anak tersinggung dan merasa disingkirkan.

“ooo adek mau main sama mama ya?mama lagi masak kesukaan adek nih, oke, mama janji setelah selesai nanti kita main, sini mama minta pisaunya dulu”

Coba bandingkan “aduh, jangan ikut-ikutan main pisau ya nanti kena tangan, ke sana aja dulu”
Intinya sama ya..tapi caranya berbeda, dampak buat anak juga sangaatttt berbeda.

2. kasus rebutan mainan

abah mengatakan bahwa bertengkar dan berebut adalah salah satu media anak belajar mengelola konflik di masa depan. Untuk mengelola kasus “rebutan” sebaiknya terlebih dahulu anak dikenalkan konsep kepemilikan, “ini mainan adek, ini punya kakak, adek harus ijin ke kakak kalo mau pinjem, boleh main bareng , tapi ngga ada mainan milik bersama” dengan konsep kepemilikan tsb, maka anak akan mengetahui mana yang boleh dipakai dan mana yang tidak menjadi haknya.

Jika hal ini dibiasakan maka saat mereka dewasa nanti tidak akan lebih mudah mengambil milik orang lain, tidak dengan enaknya pakai mobil dinas untk tamasya, tidak dengan enaknya pakai fasilitas umum untuk pribadi, lha wong mau pake punya sodara sendiri aja ngga berani apa lagi punya orang lain.begitu isitilahnya.
Untuk kasus nomr 2 di atas, ini lah saran abah yang harus kita ucapakan.

“ooo mainan kakak diambil adek?kalo mainan kaka diambil adek, kakak boleh ambil lagi, itu punya kakak, dan adek ngga ijin, tapi ayah sedih kalo kakak pukul adek, kalia harus saling sayang, silahkan minta maaf ke adek karena akakk pukul adek, nanti ayah kasi tau adek ngga boleh sembarangan ambil mainan kakak tanpa ijin” (ngomongnya jangan sambil cepet-cepet ya dan sambil senyum, kalo ngmg baik tp nadanya kayak orang ngomel ya percumcum)

Pada kenyataannya jawaban ini lebih simple ” “ooo ngalah donk, adik kan masih kecil, kamu main yg lain aja” lebih sederhana ya, tapi dengan kita mengulang utk kasus yang mirip, kita tidak mengajarkan apa-apa sama sekali justru kita yang menjerumuskan.

Kasus 3: chocolate on supermarket

Jika anak rewel, sering kali kita NGGA TEGA dan lalu mengalah, padahal dengan begitu, si anak akan makin keras dan membuktikan bahwa kita lemah. Yang lebih parah lagi, anak akan menilai kita sebagai pembohong dan itu boleh dilakukan oleh orang dewasa. (duuuhhhh). Jika kita mengalami hal tersebut, yang harus dipegang adalah sekali TIDAK tetap TIDAK. Biarkan anak menangis sampe puas. Atau kalau ngga tahan , tinggalkan keranjang belanjaan dan pulang, yang pasti jgn menarik ulur perkataan kita sendiri. Kalo saja di kasus tersebut kita ‘ngalah’ , kita hanya mengambil solusi utk diri kita sendiri dan kita berpuas diri dalam hati “ahhh legaaa, anak diem anteng, lanjut deh belanjanya”. Helloooo pikirkan lagi dampaknya utk masa depan anak.

KAsus 4: apel mana yang busuk
Utk kasus memilih, sering kali orangtua menjadi solusi utk anaknya, bukan mengajak mencari solusi. Makan anak akan ragu dalam mengambil keputusan. Jika kita mengalami kasus 4, lalu bagaimana?
*anak mengambil apel yg kebetulan busuk
“ooo kakak ambil yg itu?sini mama pegang, kakak ambil lagi yang lain”
Lalu si anak mengambil lagi yg busuk
“coba kaka ambil lagi satu”
Kebetulan langsung dpt apel yg bagus
Lalu sandingkan antara apel yg busuk dan yg bagus
“coba lihat, apel yg ini begini, ada hitam-hitamnya, coba dicium baunya”
“yang ini wangi ya mah?yang ini baunya ngga enak”
“kakak suka yg mana?yang ini atau yg ini?
“yang wangi deh ma”
“coba ambil lagi yang sama lalu masukkan lagi ke plastik”

Nah kan, Dapet deh solusinya, sekalian mengajarkan konsep busuk/bagus dengan mengajak anak berfikir, sehingga anak sendiri yang memutuskan mana apel yg bagus mana apel yg busuk, oleh mereka sendiri, bukan kita.

Janjiku pada anak-anak, insyaallah aku akan selalu belajar menjadi orang tua yang baik. Demi mereka aku ikut acara ini, demi mereka aku belajar, dan insyaallah tidak ada yang terlambat.

Sebenrnya tulisan ini ngga seberapa isinya disbanding isi belajar kemarin. Bener2 ngga nyesel deh aku. Banyak orang tua (ayah maupun ibu) yang ikut acara ini dan merasa bersalah pada anaknya selama ini, mereka berpikir saat ini sudah menjadi orang tua yang baik pada akhirnya menyesali sikap mereka selama ini yang ternyata salah dan menyakiti. **kalo aku sih ya, jujur karena merasa masih jadi orang tua yg ala kadarnya, yang bandel dll, makanya mau ikut acara ini**lah mereka yang udah merasa terbaik aja menyesal dgn sikapnya selama ini sampe nangis-nangis gitu, apalagi akuuuuuu huhuhuhuhuhu…..

Tak ada yang terlambat untuk belajar, apalagi belajar menjadi orang tua adalah tugas kita seumur hidup. Saat di akhirat nanti kita lah yang dimintai pertanggungjawaban atas anak kita, bukan gurunya, temannya, neneknya. Saat kita tua, kita ingin anak kita menjadi orang dewasa yang sukses, dan merawat kita saat kita renta dgn ikhlas. Saat kita meningal, kita yakin anak-anak kita mendoakan kita dengan tulus dan tidak sekedar berebut warisan. Warisan harta tak seberapa dibandingkan dengan warisan anak.

Ihhh panjang bener tulisannya..maaf ya kalo begitu membosankan karena aku bukan penulis. Isi kelas belajarnya jaauuuhhhh lebih bagus daripada ini. Jika nanti ada seminar Program Sekolah Pengasuh Anak (PSPA) di kota teman-teman tinggal (lihat jadwal di link INI) , silahkan ikut. hari ini aku Hanya ingin berbagi. Jika ada bagian cerita yang dirasa negatif, mohon jgn diambil. Semoga bermanfaat.

Salam
-ayu-